Salim Segaf Berduka atas Wafatnya Ketua Perguruan Al-Khairaat

 

Ketua Majelis Syura PKS, Salim Segaf al-Jufri menyatakan duka cita yang mendalam atas wafatnya Ketua Utama Perguruan Al-Khairaat, Habib Saggaf bin Muhammad al-Jufri. Tokoh berpengaruh di wilayah Sulawesi dan sekitarnya itu berpulang di RS Al-Khairaat, Palu, pada Selasa petang (3/8/2021).

“Beliau adalah kakak ipar saya yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan dakwah, terutama untuk membina generasi muda,” ungkap Salim mengenang almarhum. “Kami 14 bersaudara, dibesarkan dengan kondisi prihatin oleh orangtua. Kami ingin menjaga warisan perjuangan dari kakek yang dipanggil sebagai Gurutua Sayid Idrus bin Salim (SIS) al-Jufri.”

Gurutua SIS al-Jufri merupakan pendiri organisasi massa Al-Khairaat, pada 30 Juni 1930 atau 14 Muharram 1349 H, yang berkembang pesat di Indonesia kawasan timur. Kini Al-Khairaat mengelola lebih dari 1.500 madrasah/sekolah dan 34 pondok pesantren tersebar di 13 Provinsi di Indonesia. Atas jasa dan perjuangan Gurutua tersebut, Pemerintah Indonesia memberikan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana (2010).

Pada saat organisasi Nahdlatul Ulama (NU) berdiri tahun 1926, Gurutua sempat berziarah ke Jombang, Jawa Timur dan bertemu dengan Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. “Mereka bersahabat dan belajar pada guru yang sama di Kota Mekah. Setelah berdialog, Gurutua memohon restu untuk berdakwah ke wilayah timur Indonesia dan akhirnya mendirikan Al-Khairaat,” Salim bercerita.

Perguruan Al-Khairaat dan NU memiliki kesamaan pandangan dan gerak langkah dalam bingkai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sikap itu yang dipegang teguh oleh almarhum Habib Saggaf, sehingga merangkul semua pihak dan berdiri di atas kepentingan umat dan bangsa. Nasionalisme Al-Khairaat tak perlu diragukan lagi, karena Gurutua dahulu sempat berdialog dengan Bung Karno (Proklamator Kemerdekaaan RI) lewat syairnya.

Cerita Salim, setelah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno menulis surat kepada para alim-ulama untuk meminta nasehat: bagaimana sikap umat Islam dalam menghadapi penjajah Belanda yang masuk lagi dan menyerang Indonesia? KH Hasyim Asy’ari saat itu merespon dengan mengumpulkan para ulama di Surabaya, dan akhirnya bersepakat mengeluarkan Resolusi Jihad (22 Oktober 1945). Resolusi itu kemudian diperkuat dalam Kongres Umat Islam Indonesia di Yogyakarta, 7-8 November 1945. Resolusi itu yang mengobarkan semangat pertempuran di Surabaya (10 November).

Tatkala menggubah syair berbahasa Arab, Gurutua menyatakan: “Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa/ Di bumi yang menghijau daratan dan gunung-gunungnya/ Sungguh hari kemunculannya menjelma waktu berbangga/ Para tetua dan anak-anak memuliakannya/ Pada tiap tahun hari itu jadi peringatan/ Nyatakan rasa syukur padanya dan pujian-pujian/ Tiap bangsa memiliki lambang kemuliaannya. Dan merah-putih adalah  lambang keluhuran kita,” Salim menerjemahkan.

Khusus kepada Bung Karno, Gurutua menyerukan: “Wahai Bung Karno, kaujadikan hidup kami bahagia/ Dengan obatmu,  hilanglah penyakit kita/ Wahai pemimpin penuh kebaikan di tengah kita/ Bagi rakyat, kau hari ini laksana obat kimia…”. Itulah bukti kedekatan antara tokoh bangsa di masa awal perjuangan kemerdekan.

 

Share This

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
Asslamualaikum Bisa Kami Bantu..

By
HUMAS DPD PKS DELI SERDANG